Jumat, 05 Agustus 2011

BAHASAN FAKTA DAN OPINI - ARTI WACANA

BAHASAN FAKTA DAN OPINI

Memilih antara Fakta dan Opini
Fakta adalaah kejadian atau peristiwa yang benar dan biasa dibuktikan. Termasuk didalamnya ucapan pendapat atau penilaian orang atas sesuatu. Dalam kode etik jurnalistik, pasal 3 ayat (30) dijelaskan antara lin, “ di dalam menyusun berita, wartawan harus mebedakan antara fakta dan opini sehinga tidak mencampur adukan yang satu dengan yang lain untuk mencegah penyiaran berita-berita yang diputar balikan atau dibubuhi secara tidak wajar”.
Opini atau pendapat. Dikenal juga dengan public opinion atau pendapat umum dan general opinion atau anggapan umum. Opini merupakan pemersatu pendapat-pendapat yang banyak, sedikit harus didukung orang banyak baik setuju atau tidak setuju.

Menaggapi isi berita

Tanggapan adalah ulasan atau komentar atas berita, pidato, laporan dan sebagainya. Tanggapan terhadap berita diberikan pada seluruh aspek berita, seperti, unsur berita, bahasa dan gaya penulisan berita, dan sebaginya.
Dalam memberikan tanggapan terhdapa suatu berita atau laporan, diperlukan pemahan tiga aspek pentinng adari tulisan tersebut. Tiga aspek tersebut adalah ejaan, isi, adan aspek penyajiaan berita. Bahasa yyang digunakan dalam penulisan berita adalah menggunakan ragam bahasa standar. Bahasa standar mempunyai cirri sebagi berikut ;
1. Cendekia
2. Luwes
3. Dinamis
4. Dan enak dibaca, tetapi tidakberpedoman kepada kaidah bahasa yang berlaku.
Contoh dari tanggapan:
Saya tidak setuju atas tindakan pemerintah menolak pencantuman lembaga penyiaran komunikasi.

Ciri ciri teks yang berpola induktif

Paragraph adalah bagian dari telah wacana dalam bahasa Indonesia. Penalaran induktif adalah proses penalaraan yang bertolak dari peristiwa –peristiwa yang sifatnya khusus menuju pernyataan umum.
Apabila diidentifikasi pola induktif memiliki ciri sebagai berikut :
a. Letak klaimat berada diawal kalimat
b. Diawali dengan uraian yang bersifat khusus dan diakhiri dengan pernyataan umum.

Contoh :
Di dalam pemilihan presiden amerika tahun 1952, 62.7% orang amerika yang dapat dipilih benar-benar telah terpilih. Dalam pemilihan tahun 1956 presentase adalah 60.4%. pada tahun 1960 adalah 63.8%. dari penyajian statistic tersebut, ternyata cukup besar golongan orang amerika yang berhak memilih tidak digunakan hak pilihnya dangan sungguh-sungguh.

Generalisai
Adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fakta atau gejala khusus yang diamati lalu ditarik kesimpulan umum tentang sebagian atau seluruh gejala yang diamati itu. Jadi, generalisai merupakan pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diamati. Di dalam pengembanagan karangana, generalisasi perlu ditunjang atau dibuktikan dengan fakta-fakta, contoh-contoh, data statistic, dan sebaginya yang merupakan spesifikasi atau ciri sebagai penjelas sebagai berikut.

Contoh.
Pemrintah mendirikan sekolah sampai ke pelosok. Puskesmas didirikan dimana –mana. Lapangan kerja baru diciptakan. Pembangunan rumah ibadah diperbanyak atau dibantu pemrintah. Memang menjadi tugas pemerintah untuk kesejahteraan rakyat.

Analogi
Cara bernalar dengan membandingkan dua hal yang memiliki sifat yang sama. Cara ini berdasarkan dari persamaan berbagai segi, maka aka ada persamaan pula dalam bidang lain.

Contoh :
Secara tak sengaja Amara mengetahui pensil Steadler 4B menghasilkan gambar vinyet yang memuaskan hatinya. Pensil itu sagat lunak dan menghasilkan garis garis hitam dan tebal. Oleh karena itu, selama bertahun-tahun ia selalu memakai pensil itu untuk membuat vinyet, tetapi ketika ia berlibur di rumah nenek disebuah kota kecamatan ia kehabisan pensil. Ia mencari di toko –toko di kota itu tidak ada. Akhirnya, daripada tidak dapat mencoret –coret ia memilih merek lain yang sama lunaknya dengan Steadler 4B. “Ini tentu akan mengasilkan inyet yang bagus juga,” putusnya.

Sebab Akibat
Adalah proses penalaran yang di mulai dengan mengemukakan fakta yang berupa sebab dan sampai pada kesimpulan yang merupakan akibat.
Contoh:
BapaK Rohmad adalah seorang pekerja keras, sampai-sampai ia melupakan waktu dan pola makan yang teratur. Akhir – akhir ini bapak Rohmad tidak masuk kerja. Ia divonis menderita penyakit tipus akut. Oleh karena itu, ia harus segera mendapat perawatan medis dirumah sakit.

Unsur – unsure dala Surat Lamaran Pekerjaan

Surat lamaran pekerjaan bias di tulis seorang ditujukan kepada suatu intansi atau perusahaan. Dalam surat lamaran tersebut, seorang pelamar menawarkan keahlian, kemampuan, atau jasa agar diterima menjadi karyawan atau pegawai di intansi atau perusahaan tersebut.

Unsur –unsur yang ada dalam surat lamaran pekerjaan :
a. Identitas pelamar
b. Jenis pekerjaan yang diminta
c. Apabila mempunyai pengalaman, dicantumkan pengalaman kerja.
d. Data pendukung yang dimiliki
e. Sumber lamaran, baik dari iklan maupun pengumuman.

ARTI WACANA

Beberapa definisi dan pendapat dari pakar-pakar bahasa mengenai wacana. Dalam pengertian linguistik, wacana adalah kesatuan makna (semantis) antarbagian di dalam suatu bangun bahasa. Oleh karena itu wacana sebagai kesatuan makna dilihat sebagai bangun bahasa yang utuh karena setiap bagian di dalam wacana itu berhubungan secara padu. Selain dibangun atas hubungan makna antarsatuan bahasa, wacana juga terikat dengan konteks. Konteks inilah yang dapat membedakan wacana yang digunakan sebagai pemakaian bahasa dalam komunikasi dengan bahasa yang bukan untuk tujuan komunikasi. Menurut Hawthorn (1992) wacana adalah komunikasi kebahasaan yang terlihat sebagai sebuah pertukaran di antara pembicara dan pendengar, sebagai sebuah aktivitas personal di mana bentuknya ditentukan oleh tujuan sosialnya. Sedangkan Roger Fowler (1977) mengemukakan bahwa wacana adalah komunikasi lisan dan tulisan yang dilihat dari titik pandang kepercayaan, nilai, dan kategori yang termasuk di dalamnya. Foucault memandang wacana kadang kala sebagai bidang dari semua pernyataan, kadang kala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadang kala sebagai sebuah praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan. Pendapat lebih jelas lagi dikemukakan oleh J.S. Badudu (2000) yang memaparkan;

wacana sebagai rentetan kalimat yang berkaitan dengan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa wacana merupakan kesatuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan,yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata,disampaikan secara lisan dan tertulis.

Sementara itu Samsuri memberi penjelasan mengenai wacana, menurutnya;
wacana ialah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi, biasanya terdiri atas seperangkat kalimat yang mempunyai hubungan pengertian yang satu dengan yang lain. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula memakai bahasa tulisan.

Lull (1998) memberikan penjelasan lebih sederhana mengenai wacana, yaitu cara objek atau ide diperbincangkan secara terbuka kepada publik sehingga menimbulkan pemahaman tertentu yang tersebar luas. Mills (1994) merujuk pada pendapat Foucault memberikan pendapatnya yaitu wacana dapat dilihat dari level konseptual teoretis, konteks penggunaan, dan metode penjelasan.

Berdasarkan level konseptual teoretis, wacana diartikan sebagai domain dari semua pernyataan, yaitu semua ujaran atau teks yang mempunyai makna dan mempunyai efek dalam dunia nyata. Wacana menurut konteks penggunaannya merupakan sekumpulan pernyataan yang dapat dikelompokkan ke dalam kategori konseptual tertentu. Sedangkan menurut metode penjelasannya, wacana merupakan suatu praktik yang diatur untuk menjelaskan sejumlah pernyataan.

Dari uraian di atas, jelaslah terlihat bahwa wacana merupakan suatu pernyataan atau rangkaian pernyataan yang dinyatakan secara lisan ataupun tulisan dan memiliki hubungan makna antarsatuan bahasanya serta terikat konteks. Dengan demikian apapun bentuk pernyataan yang dipublikasikan melalui beragam media yang memiliki makna dan terdapat konteks di dalamnya dapat dikatakan sebagai sebuah wacana.

Jenis-Jenis Wacana
Leech mengklasifikasikan wacana berdasarkan fungsi bahasa seperti dijelaskan berikut ini;
1. Wacana ekspresif, apabila wacana itu bersumber pada gagasan penutur atau penulis sebagai sarana ekspresi, seperti wacana pidato;
2. Wacana fatis, apabila wacana itu bersumber pada saluran untuk memperlancar komunikasi, seperti wacana perkenalan pada pesta;
3. Wacana informasional, apabila wacana itu bersumber pada pesan atau informasi, seperti wacana berita dalam media massa;
4. Wacana estetik, apabila wacana itu bersumber pada pesan dengan tekanan keindahan pesan, seperti wacana puisi dan lagu;
5. Wacana direktif, apabila wacana itu diarahkan pada tindakan atau reaksi dari mitra tutur atau pembaca, seperti wacana khotbah.

Berdasarkan saluran komunikasinya, wacana dapat dibedakan atas; wacana lisan dan wacana tulis. Wacana lisan memiliki ciri adanya penutur dan mitra tutur,bahasa yang dituturkan, dan alih tutur yang menandai giliran bicara. Sedangkan wacana tulis ditandai oleh adanya penulis dan pembaca, bahasa yang dituliskan dan penerapan sistem ejaan.
Wacana dapat pula dibedakan berdasarkan cara pemaparannya, yaitu wacana naratif, wacana deskriptif, wacana ekspositoris, wacana argumentatif, wacana persuasif, wacana hortatoris, dan wacana prosedural.
Nah… banyak juga ternyata… wacana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar